ACEH TIMUR — Di tengah pesatnya pembangunan di berbagai wilayah, masyarakat pedalaman Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, masih menghadapi persoalan mendasar. Akses jalan yang sulit, jarak menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan, keterbatasan listrik, hingga minimnya jaringan komunikasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Bagi masyarakat setempat, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan infrastruktur. Jalan yang rusak berdampak langsung terhadap pendidikan, kesehatan, sekaligus perekonomian warga.
Sejak pagi, aktivitas masyarakat telah dimulai. Para petani berangkat menuju ladang dan kebun dengan melewati jalan tanah serta jalan setapak. Saat hujan turun, jalur tersebut berubah menjadi licin dan berlumpur. Ketika musim kemarau, debu menjadi persoalan lain.
Kondisi itu membuat mobilitas warga, terutama dalam mengangkut hasil perkebunan, tidak mudah. Pernyataan ini disampaikan ke media pada Jumat (28/8/2026) di Simpang Jernih, Aceh Timur.
Hasil Kebun Melimpah, Harga Belum Berpihak
Simpang Jernih memiliki potensi perkebunan yang cukup besar. Kopi, karet, cokelat, buah-buahan, dan berbagai hasil pertanian menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Namun, hasil kebun tidak selalu memberikan keuntungan yang sebanding dengan kerja keras petani.
Jarak menuju pasar dan sulitnya akses transportasi membuat distribusi hasil pertanian menjadi mahal dan tidak selalu tepat waktu. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga jual di tingkat petani.
Warga harus bekerja keras dari pagi hingga sore, tetapi hasil yang diterima belum sepenuhnya mencerminkan nilai komoditas mereka ketika sampai di pasar.
Perbaikan jalan menjadi salah satu harapan utama masyarakat untuk membuka akses ekonomi yang lebih luas.
Anak-anak Harus Menempuh Perjalanan Panjang ke Sekolah
Persoalan akses juga dirasakan anak-anak.
Sebagian anak harus menempuh perjalanan jauh untuk menuju sekolah. Kondisi jalan dan keberadaan sungai menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika hujan deras menyebabkan aliran air meningkat.
Tidak jarang kondisi cuaca membuat perjalanan menuju sekolah menjadi sulit dilakukan.
Di sisi lain, fasilitas pendidikan di wilayah pedalaman juga masih membutuhkan perhatian. Ketersediaan sarana belajar dan tenaga pendidik menjadi bagian dari kebutuhan yang diharapkan dapat terus ditingkatkan.
Bagi warga, pendidikan adalah jalan penting untuk membuka masa depan generasi muda Simpang Jernih.
Ketika Sakit, Jarak Bisa Menjadi Persoalan Serius
Tantangan yang tidak kalah berat terjadi ketika warga membutuhkan pelayanan kesehatan.
Jarak menuju fasilitas kesehatan membuat masyarakat harus menempuh perjalanan panjang. Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika terjadi keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera.
Persalinan, sakit mendadak, maupun kecelakaan membutuhkan akses transportasi dan pelayanan medis yang cepat. Namun, kondisi jalan yang sulit dapat menjadi kendala dalam proses membawa pasien menuju fasilitas kesehatan.
Karena itu, masyarakat berharap pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman mendapat perhatian lebih, baik dari sisi fasilitas maupun akses.
Listrik dan Sinyal Masih Menjadi Kebutuhan
Selain jalan, pemerataan listrik dan jaringan komunikasi juga menjadi harapan warga.
Keterbatasan jaringan telepon membuat komunikasi dengan keluarga, masyarakat di luar daerah, maupun berbagai layanan menjadi tidak mudah.
Di era ketika komunikasi digital menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari, keterbatasan sinyal membuat masyarakat pedalaman menghadapi kesenjangan akses dengan wilayah yang infrastrukturnya lebih maju.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan
Di tengah berbagai keterbatasan, masyarakat Simpang Jernih tetap mempertahankan kehidupan sosial yang kuat.
Gotong royong masih menjadi bagian dari keseharian. Ketika ada warga membangun rumah, mengalami sakit atau musibah, maupun menggelar kegiatan sosial, masyarakat sekitar turut membantu.
Kebersamaan menjadi modal sosial yang membuat warga mampu bertahan menghadapi berbagai keterbatasan.
Kesederhanaan juga terlihat dalam keseharian masyarakat. Setelah menjalani aktivitas di kebun dan ladang, warga dapat berkumpul bersama sambil menikmati kopi hasil kebun sendiri.
Warga Tidak Meminta Kemewahan
Masyarakat Simpang Jernih tidak menuntut kehidupan mewah. Harapan mereka relatif sederhana: jalan yang layak, sekolah yang mudah dijangkau, pelayanan kesehatan yang memadai, listrik yang merata, serta jaringan komunikasi yang dapat digunakan.
Mereka ingin memiliki kesempatan yang sama seperti masyarakat di wilayah lain.
Mereka ingin hasil kebun dapat dijual dengan harga yang lebih layak. Mereka ingin anak-anak dapat bersekolah tanpa terkendala jarak dan kondisi alam. Mereka juga ingin mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa harus menghadapi perjalanan panjang ketika kondisi darurat terjadi.
Simpang Jernih bukan sekadar titik di peta Aceh Timur. Di kawasan itu terdapat masyarakat yang bekerja, bertani, menyekolahkan anak, membangun keluarga, dan mempertahankan kehidupan dengan segala keterbatasan yang ada.
Karena itu, pembangunan di kawasan pedalaman diharapkan tidak berhenti pada pusat kota atau jalur utama saja.
Jalan yang menghubungkan, listrik yang menerangi, jaringan yang menyambungkan, sekolah yang mudah dijangkau, serta pelayanan kesehatan yang hadir ketika dibutuhkan merupakan bentuk pembangunan yang langsung dirasakan masyarakat.
Masyarakat Simpang Jernih tidak meminta belas kasihan. Mereka membutuhkan perhatian dan pembangunan yang adil.
Pemerintah daerah dan pemerintah pusat diharapkan dapat melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari agenda pemerataan pembangunan. Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak hanya terlihat dari kawasan yang telah maju, tetapi juga dari seberapa jauh manfaat pembangunan mampu menjangkau masyarakat yang berada di pelosok.
Penulis: Agus Suriadi





























