SEMARANG – Aktivitas padat seolah tak menjadi penghalang bagi Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PWFRN), R.Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo, SH, atau yang akrab disapa Agus Flores.
Dengan agenda yang terbilang maraton, Agus Flores bahkan berseloroh harus “membagi badan” agar seluruh agenda dapat dijalankan sekaligus menjaga kondisi tubuh tetap prima.
“Sultan Demak, Borobudur dan Napak Tilas Besuki harus dibagi badan ini, supaya sehat terus,” ungkap Agus Flores dalam nada santai.
Agenda besar telah menanti. Besok, Agus Flores dijadwalkan mengikuti kegiatan Napak Tilas Borobudur, sebelum melanjutkan perjalanan dalam rangka agenda Sultan Demak.
Namun perjalanan belum berhenti di sana.
Memasuki hari Senin, setelah menjalani agenda persidangan di Pengadilan Negeri Semarang, Agus Flores dijadwalkan langsung bertolak menuju wilayah Besuki.
Perjalanan lintas daerah itu dilakukan untuk mengejar momentum penting peringatan Hari Jadi Besuki.
Rangkaian agenda tersebut menunjukkan mobilitas tinggi Agus Flores yang dalam beberapa waktu terakhir terus bergerak dari satu daerah ke daerah lainnya, menghadiri berbagai agenda organisasi, sosial, budaya, hingga kegiatan yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Nusantara.
Dari jejak peradaban Borobudur, agenda di Demak, hingga perjalanan napak tilas menuju Besuki, seluruh rangkaian itu menjadi perjalanan panjang yang penuh makna.
Tak heran jika Agus Flores menyebut dirinya seakan harus “membagi badan”. Sebab dalam waktu yang berdekatan, sejumlah agenda penting telah menanti dan harus dijalankan.
Meski demikian, semangat untuk terus bergerak tampaknya tetap menjadi energi utama.
Borobudur ditapaki, Demak disambangi, sidang di Semarang dijalani, dan Besuki menjadi tujuan berikutnya.
Sebuah agenda maraton yang menggambarkan perjalanan tanpa jeda.
Kini, perhatian tertuju pada rangkaian perjalanan Ketum Fast Respon Agus Flores. Apakah seluruh agenda tersebut dapat dilalui sesuai jadwal?
Yang jelas, satu hal menjadi sorotan.
Agus Flores terus bergerak. Dari satu jejak sejarah menuju jejak berikutnya, hingga akhirnya kembali menapaki Besuki demi mengejar momentum hari jadi daerah yang memiliki nilai sejarah tersendiri.
{Jurnalis Agus Suriadi}





























