SIMPAN -JERNIH | Jalan rusak dan berlumpur kembali melumpuhkan akses evakuasi. Warga terpaksa menjadi “mesin derek” dadakan, menarik ambulans berisi pasien kritis di tengah guyuran hujan. Selasa 22/09/2026
Tidak ada suara sirine yang membahana. Yang terdengar di Tanjakan Kekening, Desa Simpang Jernih,
Hanya deru mesin ambulans yang meraung sia-sia, bercampur dengan suara ban yang berputar di tempat, menghamburkan lumpur hitam ke segala arah.
Di jalur evakuasi vital ini, waktu tidak berjalan dengan hitungan menit, melainkan dengan hitungan tarikan urat dan desah napas.
Hujan yang turun siang itu bukan membawa berkah, melainkan mengubah jalur aspal yang sudah lama “menghilang” ini menjadi kuburan berjalan bagi kendaraan roda empat.
Di dalam kabin ambulans, seorang pasien yang sedang dalam kondisi kritis terbaring lemah. Namun di luar sana, harapan untuk selamat sedang ditarik paksa oleh belasan tangan kosong warga.
Lumpur, Keringat, dan Doa yang Tercekik
“Satu, dua, tiga… Tarik!”
Teriakan itu pecah, nyaris ditelan oleh deru hujan. Beberapa pemuda desa, dengan pakaian yang tak lagi bisa dibedakan warna aslinya karena lumpur, menancapkan kaki mereka ke tanah yang ambles.
Otot-otot mereka menegang, urat leher berkedut, menahan beban besi seberat 2 ton yang membawa nyawa tetangga mereka.
Ini bukan adegan film aksi. Ini adalah rutinitas mematikan di Tanjakan Kekening.
Secara geografis, jarak dari Simpang Jernih ke fasilitas kesehatan rujukan memakan waktu 50 hingga 70 kilometer. Secara logika,
Dok : vidio Saat Mobil Ambulan Bawa Pasien Menerjang Tanjakan Kekening
Seharusnya hanya butuh 2 jam. Tapi logika tidak berlaku di Bukit Kekening. Di tanjakan ini, 50 kilometer bisa memakan waktu 4 hingga 5 jam.
Bayangkan detak jantung seorang pasien yang harus berdetak dalam guncangan keras dan kemiringan jalan yang ekstrem selama berjam-jam.
Janji yang Terkubur di Dasar Jurang
“Kami sudah tidak lagi berharap pada aspal,” ujar salah satu warga yang ikut mendorong ambulans, sambil memeras air dari ujung bajunya.
“Kami hanya berharap pada otot kami sendiri, dan Allah yang menahan nyawa pasien sampai kami sampai di bawah.”
Bukan kali ini saja warga harus menjadi mesin derek dadakan. Sejak bertahun-tahun lalu, Tanjakan Kekening telah memakan banyak korban.
Ada yang selamat karena warga sigap. Ada juga yang harus pulang dalam keranda karena waktu habis di tengah jalan.
Setiap kali ada pejabat melintas, janji perbaikan selalu datang. Alat berat pernah dikirim, tapi entah mengapa, lumpur di Kekening selalu lebih cepat menang daripada janji para pemangku kebijakan.
Hari ini, warga Simpang Jernih kembali menang. Mereka berhasil menyelamatkan nyawa di Tanjakan Kekening.
Tapi pertanyaan besarnya masih menggantung di udara, menunggu jawaban dari pemerintah daerah:
Besok, saat hujan turun lagi dan ada pasien yang butuh evakuasi… siapa yang akan menarik ambulans itu ? Tutup warga
{Jurnalis Agus Suriadi}





























