SIMPANG JERNIH — Di antara deru angin pagi yang menyapu beranda hijau Markas Komando Danramil 10/Simpang Jernih, sebuah momen sederhana namun sarat makna unfolds pada Senin (5/10/2026).
Bukan sekedar kunjungan protokoler, melainkan sebuah perjumpaan yang merajut kembali benang-benang kebersamaan antara tiga pilar negara di tingkat kecamatan kepolisian, pemerintahan, dan TNI.
Tepat pada hari bersejarah ketika Tentara Nasional Indonesia genap berusia 81 tahun,
Kapolsek Simpang Jernih Ipda Dwi Andika Lubis, S.H., M.H. yang diwakili oleh Aipda Andri melangkah masuk ke halaman Mako Danramil 10/SPJ.
Di sisinya, Kasi (Kesos) Kantor Camat Simpang Jernih, Burhanudin, S.E., hadir membawa pesan hangat dari pemerintah daerah.
Mereka datang bukan dengan seremoni besar, melainkan dengan ketulusan yang terukur sepotong kue tart berwarna hijau, simbol harapan dan kesetiaan.
Lebih dari Sekedar Ucapan Selamat
Yang membedakan kunjungan ini dari deretan acara seremonial serupa di berbagai daerah adalah kehangatan yang tak dibuat-buat.

Di teras bangunan berdinding hijau itu, Aipda Andri dengan tangan kanannya menyuapkan sepotong kue kepada Kopka Ronny. R. prajurit yang ditunjuk mewakili Danramil 10/SPJ.
Gestur itu bukan sekedar tradisi ulang tahun; ia adalah metafora visual tentang bagaimana negara, dalam wujud paling manusiawinya, merawat mereka yang merawat negara.
Seorang anak kecil mungkin putra salah satu anggota atau warga sekitar bersandar di meja, matanya mengikuti setiap gerakan dengan rasa ingin tahu yang polos.
Di sisinya, pria berbaju cokelat dinas, Burhanudin, tersenyum tipis. Di latar belakang, pohon-pohon rindang Simpang Jernih berdiri
Sebagai saksi bisu bahwa perayaan ini terjadi bukan di gedung megah ibu kota, melainkan di jantung sebuah kecamatan yang mungkin jarang masuk headline nasional.
TNI ke-81: Refleksi di Tanah Serambi
Usia 81 tahun bagi sebuah institusi militer adalah angka yang mengundang refleksi.
TNI lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan, tumbuh melalui berbagai era tantangan, dan kini berdiri di persimpangan antara tradisi dan modernitas.
Di Simpang Jernih sebuah wilayah yang mungkin secara geografis terpencil namun secara sosial emosional sangat dekat dengan denyut nadi kebangsaan
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa HUT TNI bukan milik Jakarta semata.
Ia milik setiap babinsa yang berjalan kaki menyusuri sawah, milik setiap kopka yang menjaga pos di ujung kecamatan, milik setiap warga yang merasa aman karena ada seragam loreng di antara mereka.
Kehadiran Kapolsek dan Kasi (Kesos) dalam momen ini juga mengirim pesan yang tak kalah penting sinergi.
Dalam ekosistem keamanan dan ketertiban masyarakat, TNI, Polri, dan pemerintah daerah adalah tiga serangkai yang tak bisa dipisahkan.
Kunjungan ini, dalam bahasa yang lebih dalam, adalah reaffirmasi — penegasan kembali bahwa di tingkat tapal kuda, mereka bekerja dalam satu irama.
Makna di Balik Selempang Merah
Kopka Ronny R, yang menerima kunjungan tersebut, mengenakan selempang merah bertuliskan “BAB…” kemungkinan besar BABINSA (Bintara Pembina Desa).
Peran babinsa sering kali tak terlihat oleh mata publik nasional, namun dialah yang menjadi wajah TNI paling dekat dengan rakyat.
Dialah tugas-tugas kecil yang besar terjadi dari pendampingan petani hingga pengamanan pemilu, dari tanggap bencana hingga menjaga kerukunan umat beragama.
Menerima ucapan selamat HUT TNI di usia ke-81, Kopka Ronny R mewakili prajurit lain yang bertugas di pelosok-pelosok Nusantara Ia tak berpidato panjang.
Ia hanya tersenyum, menerima kue, dan melanjutkan tugasnya. Mungkin justru di situlah letak keagungannya dalam kesederhanaan yang teguh.
Penutup: Negara yang Hadir dalam Bentuk Kue dan Senyuman
Di era di mana berita sering kali diukur dari jumlah klik dan sensasi, momen di Simpang Jernih ini menawarkan sesuatu yang langka
Ketulusan tanpa panggung.
Tidak ada spanduk raksasa, tidak ada iring-iringan kendaraan dinas, tidak ada pidato berapi-api.
Yang ada hanyalah sekelompok orang polisi, prajurit, pegawai negeri, dan seorang anak kecil — yang berkumpul di beranda hijau untuk merayakan hari jadi sebuah institusi yang telah mengabdi selama 81 tahun.
Mungkin inilah wajah Indonesia yang sebenarnya bukan yang gemerlap di layar kaca, melainkan yang hangat di teras-teras kecil, di mana negara hadir
Bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai suapan kue, jabat tangan, dan senyuman yang tulus.
Selamat HUT ke-81, TNI. Dari Simpang Jernih, dengan segala kesederhanaannya, Indonesia bangga padamu.
{Jurnalis Agus Suriadi}





























