SIMPANG JERNIH – Di balik derasnya arus sungai dan terjalnya bebatuan, tersimpan perjuangan warga pedalaman yang tak banyak terlihat. 20/10/2026
Ketika debit air sungai meningkat di kawasan Batu Katak, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, perjalanan menuju ibu kota kecamatan bukan lagi sekedar urusan jarak,
Melainkan perjuangan yang menuntut keberanian, tenaga, dan kewaspadaan.
Pemandangan memilukan itu tergambar dari aktivitas warga yang harus melewati jalur sungai dengan kondisi medan berbatu dan licin.
Demi mencapai tujuan, penumpang perahu atau bot terpaksa turun terlebih dahulu saat melintasi kawasan Batu Katak.
Sementara itu, warga harus menapaki serta menanjaki pinggiran bebatuan yang terjal, menunggu perahu melewati titik sulit sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Kondisi tersebut bukan sekedar persoalan kenyamanan. Ketika debit air meningkat, risiko terpeleset, terseret arus, hingga mengalami kecelakaan menjadi ancaman nyata,
Terutama bagi anak-anak, perempuan, lansia, serta warga yang membawa barang kebutuhan sehari-hari.
Bagi warga, perjalanan yang semestinya dapat ditempuh dengan aman justru berubah menjadi ujian fisik dan keselamatan.
Mereka harus berhadapan dengan kondisi alam yang sulit demi memenuhi kebutuhan hidup,
Mengakses pelayanan pemerintahan, maupun menjangkau fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Situasi ini menjadi potret nyata tantangan aksesibilitas yang dihadapi masyarakat di kawasan pedalaman Simpang Jernih.
Di saat masyarakat di wilayah lain menikmati perjalanan melalui jalur yang lebih memadai,
Warga di kawasan Batu Katak masih harus mengandalkan keberanian dan kemampuan melewati medan alam yang berbahaya.
Harapan kepada Pemerintah: Jangan Biarkan Warga Berjuang Sendirian
Kondisi tersebut diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, Pemerintah Aceh, maupun instansi terkait
Yang memiliki kewenangan dalam pembangunan infrastruktur dan penanganan wilayah rawan.
Masyarakat membutuhkan langkah nyata, bukan sekedar melihat persoalan ini sebagai tantangan geografis yang biasa terjadi di daerah pedalaman.
Peninjauan langsung ke lokasi, kajian teknis terhadap jalur penyeberangan, serta penyusunan solusi yang sesuai dengan kondisi alam setempat
Menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko yang selama ini dihadapi warga.
Pembangunan akses yang lebih aman, penataan jalur penyeberangan,
Serta upaya mitigasi ketika debit air meningkat perlu dipertimbangkan berdasarkan kajian teknis dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Sebab, akses transportasi yang aman bukanlah kemewahan. Ia merupakan bagian penting dari hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik,
Mendapatkan pertolongan ketika darurat, serta menjalani kehidupan sehari-hari tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.
Di Balik Bebatuan Itu, Ada Kehidupan yang Menunggu Perhatian
Gambaran perjuangan warga di kawasan Batu Katak menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari kemajuan wilayah perkotaan.
Masyarakat di pelosok juga berhak merasakan kehadiran negara melalui infrastruktur yang layak, akses yang aman, dan perhatian yang berkelanjutan.
Jangan sampai kondisi baru menjadi perhatian setelah terjadi musibah.
Keselamatan warga seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum risiko berubah menjadi tragedi.
Batu Katak bukan sekedar jalur berbatu di pedalaman Simpang Jernih.
Di sana ada perjuangan warga, ada kebutuhan yang belum terjawab, dan ada harapan agar pemerintah hadir membawa solusi.
Kini, masyarakat menanti langkah konkret. Sebab, setiap warga berhak sampai ke tujuan dengan selamat,
Tanpa harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyeberangi sungai dan melewati bebatuan.
Masyarakat pedalaman simpang jernih berharap ke Pemerintah dan instansi terkait agar supaya dapat meninjau langsung kondisi kawasan Batu Katak
Untuk memastikan kebutuhan serta solusi penanganan yang paling tepat bagi masyarakat setempat.
{Jurnalis Agus Suriadi}





























