Aceh Utara – Sebuah gubuk reyot tanpa aliran listrik yang berdiri terisolasi di tengah rimbunnya kebun Desa Alue Bing, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, mendadak jadi sorotan.
Gubuk yang selama ini dikira warga dan aparat setempat hanyalah tempat melepas lelah para petani, ternyata menjadi saksi bisu perjuangan hidup Kartini (44), seorang janda, bersama anak perempuannya.
Nestapa Kartini yang hidup dalam keterbatasan dengan anak yang terpaksa putus sekolah memantik respons cepat dari jajaran TNI Angkatan Darat.
Menindaklanjuti pemberitaan media masa yang viral mengenai potret kelam tersebut, Dandim 0103/Aceh Utara Letkol Arh Jamal Dani Arifin langsung menginstruksikan Koramil 21/Paya Bakong untuk turun tangan memverifikasi lapangan sekaligus menyalurkan bantuan darurat.
Pada Jumat sore, 15 Mei 2026, sekitar pukul 17.10 WIB, Danramil 21/Paya Bakong Kapten Cke Edi Wijaya, didampingi Babinsa Serma Abdul Hamid dan Geuchik (Kepala Desa) Alue Bing, Mukhtar, mendatangi lokasi. Kehadiran mereka membawa secercah harapan baru bagi Kartini, berupa paket sembako pokok mulai dari beras SPHP, minyak goreng, telur, hingga kebutuhan sanitasi.
Persoalan Status Tanah dan Solusi Rumah Layak Huni
Namun, bantuan pangan hanyalah pereda dahaga sesaat. Akar persoalan kemiskinan struktural yang dihadapi Kartini jauh lebih kompleks. Dari hasil dialog mendalam antara Danramil dan Kartini, terungkap bahwa gubuk yang ditempatinya saat ini berdiri di atas tanah yang bukan lagi miliknya karena telah dijual.
”Ibu Kartini menjelaskan bahwa ia sebenarnya memiliki sebidang tanah pribadi berukuran 10 x 20 meter di Desa Alue Leukot, desa tetangga yang bersebelahan langsung dengan Alue Bing,” ujar Kapten Cke Edi Wijaya.
Lokasi tanah pribadi tersebut dinilai jauh lebih manusiawi dan strategis karena berada di dekat permukiman warga serta berdampingan dengan balai pengajian.
Mengetahui fakta tersebut, Danramil bersama perangkat gampong (desa) langsung bergerak melakukan pengecekan fisik ke lokasi tanah di Desa Alue Lekot guna merencanakan langkah jangka panjang, termasuk potensi pembangunan rumah layak huni (RTLH).
Menghidupkan Kembali Masa Depan Anak yang Putus Sekolah
TNI tidak hanya fokus pada bantuan fisik. Aspek pemulihan hak administrasi kependudukan dan masa depan anak Kartini juga menjadi agenda utama. Diketahui, Kartini dan anaknya saat ini tidak mengantongi kartu identitas yang aktif karena masa berlaku KTP mereka telah mati. Kondisi ini kerap memutus akses warga miskin dari bantuan sosial pemerintah.
Kapten Cke Edi Wijaya menegaskan, pihak Koramil akan mengawal langsung pengurusan dokumen KTP Kartini dan putrinya. Lebih dari itu, menyikapi kondisi anak Kartini yang putus sekolah, Koramil 21/Paya Bakong berkomitmen memfasilitasi sang anak untuk mengikuti program pendidikan kesetaraan Paket C.
”Kami ingin memastikan anak Ibu Kartini mendapatkan ijazah kesetaraan agar nantinya memiliki bekal yang layak untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki taraf hidup keluarga mereka,” tambah Edi.
Mendapat perhatian yang menyeluruh, Kartini tak kuasa menahan haru. Melalui Danramil, ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Dandim 0103/Aceh Utara atas kepekaan dan bantuan nyata yang diberikan kepada keluarganya.
Evaluasi Deteksi Wilayah
Di sisi lain, keberadaan gubuk Kartini yang luput dari pantauan visual selama ini menjadi catatan evaluasi bagi aparat desa dan Babinsa setempat. Letaknya yang terpencil di tengah perkebunan membuat aparat mengira bangunan tersebut hanyalah gubuk singgah para petani, bukan rumah tinggal tetap.
Pengecekan lokasi dan penyaluran bantuan tersebut berakhir pada pukul 18.15 WIB dalam situasi yang aman dan tertib. Langkah cepat ini diharapkan menjadi titik balik bagi Kartini untuk keluar dari jerat kemiskinan di pedalaman Aceh Utara.





























