Aceh Tamiang, Indonesia — Banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang memang mulai surut. Namun di balik surutnya air, tersisa duka mendalam bagi masyarakat. Rumah-rumah dipenuhi lumpur, aktivitas ekonomi lumpuh, fasilitas umum rusak, dan banyak keluarga masih bertahan dalam kondisi serba terbatas. Perbincangan antara Ketua DPC BAI Aceh Tamiang Syamsul, Sekretaris DPD LPSA Aceh Tamiang Syarifah dan Pengamat Sosial Edi Aduhai akhirnya sampai kepada peran organisasi yang kurang atau tidak dilibatkan, ada apa? Perbincangan dilaksanakan di Kembar Caffe, Karang Baru Aceh Tamiang (15/5/2026)
Di tengah situasi kondisi saat ini, muncul pertanyaan besar yang ramai diperbincangkan masyarakat:
“Seberapa penting peran lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan, dan relawan bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dalam penanganan pasca bencana?” Jawabannya dinilai sangat penting.
Syamsul menyampaikan bahwa pasca bencana bukan hanya soal membersihkan sisa banjir, tetapi juga tentang memulihkan kehidupan masyarakat yang terdampak secara ekonomi, sosial, dan psikologis. Dalam kondisi seperti ini selayaknya pemerintah daerah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar proses pemulihan berjalan cepat dan tepat sasaran.
“Keberadaan lembaga sosial dan organisasi kemasyarakatan dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan. Mereka hadir membantu penyaluran bantuan, pendataan korban, pendampingan masyarakat, hingga membangun kembali semangat warga yang kehilangan harapan akibat musibah,” ujar Syamsul.
Sementara itu Syarifah sebagai Sekretaris DPD LPSA menyampaikan bahwa lembaga sosial memiliki peranan strategis sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah daerah. Kehadiran mereka dinilai mampu mempercepat penyampaian aspirasi warga, membantu koordinasi bantuan kemanusiaan, serta memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Ketika bencana datang, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya bantuan materi, tetapi juga perhatian, kepedulian, dan kehadiran nyata di tengah penderitaan mereka,” ujarnya.
Selain itu, berbagai pihak juga mendorong agar perusahaan-perusahaan melalui program CSR turut berkontribusi membantu pemulihan masyarakat Aceh Tamiang, terutama bagi warga yang kehilangan mata pencaharian akibat banjir hidrometeorologi.
Pengamat sosial Edi Aduhai menyebutkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan, relawan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mempercepat pemulihan pasca bencana.
Kini masyarakat berharap seluruh pihak tetap bersatu dan tidak meninggalkan rakyat berjuang sendirian setelah banjir berlalu.
“Karena sesungguhnya, saat air banjir mulai surut, perjuangan masyarakat untuk bangkit justru baru dimulai,” pungkas Edi. (Saut Simanjuntak)





























