ACEH UTARA — Pasca dilanda bencana banjir bandang pada November 2025 yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Utara,
Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di daerah tersebut mengalami kenaikan signifikan dan tembus angka Rp2.500 per kilogram.
Kenaikan harga ini disambut baik oleh para petani, meskipun di sisi lain masih menyisakan berbagai tantangan pascabencana yang belum sepenuhnya teratasi.
Sebelum bencana banjir bandang melanda, harga TBS di Aceh Utara rata-rata bergerak di kisaran Rp1.800 hingga Rp2.200 per kilogram.
Namun, setelah pasca bencana November 2025, harga naik dan bertahan di angka Rp2.500/kg, bahkan di beberapa titik pembelian mencapai Rp2.600/kg tergantung kualitas buah dan lokasi pengiriman.
Kenaikan ini didorong oleh beberapa faktor utama:
Pasokan menurun drastis
Banjir merendam banyak kebun sawit, sehingga panen sementara waktu terhambat dan jumlah TBS yang masuk ke pabrik berkurang tajam.
Jalur distribusi terganggu Jalan dan jembatan yang putus menyebabkan biaya angkut meningkat, yang kemudian ikut mendorong harga beli di tingkat petani naik.
Permintaan tetap tinggi Industri pengolahan sawit tetap membutuhkan pasokan bahan baku, sehingga pabrik bersedia membeli dengan harga lebih tinggi untuk menjamin kelangsungan produksi.
Kenaikan harga ini menjadi sedikit angin segar bagi para petani yang kebunnya rusak akibat banjir.
Pemasukan yang lebih besar diharapkan dapat membantu meringankan beban biaya perbaikan kebun dan pemulihan lahan.
Namun, di balik kenaikan harga tersebut, para petani tetap menghadapi berbagai kendala:

Banyak pohon sawit yang terendam air dan mengalami kerusakan, sehingga belum bisa dipanen.
Akses jalan yang rusak menyulitkan pengangkutan buah ke titik jual, bahkan di beberapa lokasi terpaksa harus menunggu jalur dapat dilalui kembali.
Biaya perawatan dan pemulihan kebun pasca banjir membutuhkan biaya besar yang belum sebanding dengan pendapatan saat ini.
“Harga naik memang melegakan, tetapi kalau jalan putus dan buah tidak bisa diangkut, nilainya tidak terasa.
Kami berharap harga tetap stabil dan pemerintah segera memperbaiki akses jalan agar hasil kebun bisa sampai ke pembeli,” ujar salah satu petani sawit di Aceh Utara.
Saat di temui media tribunpasee.com Para petani mengatakan dan memohon perhatian serius kepada pemerintah Aceh utara untuk
Mempercepat perbaikan jalan dan jembatan yang putus akibat banjir, sehingga distribusi TBS berjalan lancar.
Memberikan bantuan pemulihan lahan dan bibit bagi kebun sawit yang rusak berat.
Menjaga stabilitas harga agar tidak turun drastis setelah pasokan kembali normal.
Kenaikan harga TBS menjadi peluang sekaligus peringatan. Jika infrastruktur segera diperbaiki,
Petani dapat memanfaatkan momentum harga tinggi untuk memulihkan ekonominya.
Sebaliknya, jika akses tetap terputus, kenaikan harga ini hanya akan menjadi angka di atas kertas yang tidak bisa dirasakan manfaatnya.
{Jurnalis Agus Suriadi}





























