JAKARTA | 29 Oktober 2026 Makam Putri Cempo atau Putri Campa dikenal dalam tradisi masyarakat sebagai salah satu tempat ziarah yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual. Sosok yang dikaitkan dengan Dewi Kianwhie atau Anarawati tersebut menjadi bagian dari kisah sejarah dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam tradisi sebagian masyarakat Jawa, ziarah ke makam tokoh-tokoh masa lalu dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, sarana refleksi diri, serta upaya mencari ketenangan batin sesuai keyakinan masing-masing.
Di balik tradisi tersebut, muncul ungkapan yang menarik perhatian:
“Padahal cucunya saya, murid saya dua pejabat tinggi sekarang.”
Pernyataan itu menyiratkan kisah mengenai hubungan masa lalu, proses pembelajaran, dan perjalanan seseorang hingga memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh yang kini menduduki jabatan penting.
Meski demikian, identitas pihak yang dimaksud serta hubungan dengan dua pejabat tinggi tersebut masih perlu diperjelas agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Pada akhirnya, nilai sebuah tradisi sejarah dan spiritual bukan semata-mata diukur dari kedudukan orang-orang yang datang berziarah, melainkan juga dari pelajaran tentang keteladanan, tanggung jawab, dan amanah dalam kehidupan.





























