SIMPANG JERNIH — Puluhan hektare lahan perkebunan masyarakat di Dusun Jati, Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan terdampak abrasi sungai. 28/10/2026
Tak hanya mengancam lahan produktif, pengikisan tepian sungai juga menyebabkan jalan lintasan warga ambruk,
Sehingga memicu kekhawatiran terhadap akses masyarakat dan keberlangsungan mata pencaharian mereka.
Kondisi tersebut menjadi perhatian warga setempat yang berharap pemerintah daerah hingga pemerintah pusat segera turun tangan untuk meninjau kerusakan dan mengambil langkah penanganan.
Berdasarkan Media tribunpasee.com turun ke lokasi kondisi lapangan, aliran sungai tampak keruh dengan tepian yang mengalami pengikisan.
Pada salah satu titik, bagian lintasan di sisi sungai terlihat rusak dan tergerus.
Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan serius yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh instansi teknis terkait.

Lahan Produktif Terancam, Akses Warga Ambruk
Abrasi yang terjadi di kawasan Dusun Jati bukan sekedar persoalan perubahan bentuk tepian sungai.
Bagi masyarakat setempat, lahan perkebunan merupakan salah satu sumber penghidupan yang menopang kebutuhan ekonomi keluarga.
Pengikisan lahan berpotensi mengurangi area produktif milik warga.
Sementara itu, kerusakan jalan lintasan dapat menghambat mobilitas masyarakat, termasuk aktivitas menuju perkebunan dan pengangkutan hasil panen apabila akses tersebut digunakan untuk keperluan tersebut.
Warga mengkhawatirkan kerusakan akan semakin meluas apabila tidak ada upaya penanganan yang memadai.
Namun, luas lahan yang benar-benar hilang, panjang lintasan yang rusak, serta tingkat kerusakan keseluruhan masih perlu didata dan diverifikasi langsung di lapangan.
Pemerintah Pusat dan Daerah Diharapkan Turun Tangan
Masyarakat Simpang Jernih berharap pemerintah kabupaten, Pemerintah Aceh, dan pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang mereka hadapi.
Langkah awal yang dibutuhkan ialah peninjauan langsung ke lokasi, pendataan lahan dan infrastruktur terdampak,
Serta kajian teknis untuk mengetahui pola pengikisan dan tingkat ancaman terhadap kawasan sekitar.
Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi dasar bagi penanganan yang tepat, termasuk kemungkinan pembangunan pengaman tebing sungai dan pemulihan jalan lintasan sesuai kebutuhan serta kewenangan instansi terkait.
Penanganan tidak cukup hanya berorientasi pada perbaikan kerusakan yang sudah terjadi.
Upaya mitigasi juga diperlukan agar risiko abrasi susulan dapat dikurangi dan kerugian masyarakat tidak terus bertambah.

Warga Menunggu Langkah Nyata
Hingga berita ini di turunkan, informasi mengenai waktu awal terjadinya abrasi, penyebab teknis kerusakan, serta tanggapan resmi pemerintah belum tersedia dalam bahan pemberitaan.
Karena itu, diperlukan konfirmasi lebih lanjut kepada warga terdampak dan instansi terkait untuk memperoleh gambaran yang utuh.
Masyarakat berharap persoalan ini tidak berhenti sebagai keluhan di tengah kerusakan yang terus dikhawatirkan.
Mereka menginginkan kehadiran pemerintah melalui langkah konkret, mulai dari pemeriksaan kondisi lapangan hingga penentuan solusi yang berkelanjutan.
Abrasi di Dusun Jati menjadi peringatan bahwa perlindungan lahan masyarakat dan akses warga perlu mendapat perhatian serius.
Ketika tanah terus terkikis dan jalan lintasan ambruk, respons yang cepat, terukur, dan berdasarkan kajian teknis sangat dibutuhkan untuk melindungi kepentingan masyarakat.
{Jurnalis Agus Suriadi}





























