Aceh Utara – Ironi pahit tengah dirasakan warga Desa Alue Bili Geulumpang, Kecamatan Baktiya. Di tengah suhu panas ekstrem yang memanggang Aceh Utara, ribuan warga di desa tersebut harus bertarung melawan krisis air bersih yang seolah tak berujung.
Sudah lima bulan lamanya, keran-keran rumah mereka hanya mengeluarkan angin, bukan air.
Krisis ini mencapai titik nadir pada Sabtu (4/4/2026). Warga mengeluhkan suplai air dari PDAM yang macet total. Bayangkan saja, dalam kurun waktu hampir setengah tahun, air dilaporkan hanya mengalir sebanyak dua kali.
Ketimpangan yang Menyesakkan
Dari empat dusun yang ada di Alue Bili Geulumpang, potret ketimpangan sangat nyata:
1 Dusun: Mendapatkan aliran air secara tidak stabil (sesekali mengalir).
3 Dusun Lainnya: Sama sekali tidak merasakan tetesan air bersih selama lima bulan terakhir.
Sumur-sumur gali yang biasanya menjadi tumpuan terakhir warga kini mulai kerontang akibat kemarau panjang. Warga kini terjepit di antara dua pilihan sulit: membeli air galon untuk kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) atau menunggu bantuan yang tak kunjung datang.
“Kami Hanya Butuh Solusi, Bukan Janji”
Meski letak geografis desa hanya berjarak satu kilometer dari pusat kecamatan, perhatian pemerintah dinilai sangat minim. Kekecewaan warga semakin memuncak mengingat desa ini merupakan basis dukungan kuat pada Pilkada lalu.
”Untuk kebutuhan dasar saja kami sulit. Air bersih itu nyawa, tapi sampai sekarang tidak ada solusi nyata. Kami merasa ditinggalkan setelah suara kami diambil,” cetus salah seorang warga dengan nada getir.
Poin Utama Tuntutan Warga:
Aksi Cepat PDAM: Segera perbaiki jaringan pipa yang diduga bermasalah.
Distribusi Darurat: Warga meminta pemerintah daerah mengerahkan mobil tangki air bersih ke titik-titik terparah.
Kehadiran Pemerintah: Masyarakat menagih kepedulian nyata dari pemimpin daerah untuk turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Analisis Singkat: Mengapa Ini Mendesak?
Krisis air bersih bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan masalah kesehatan publik. Di tengah cuaca panas ekstrem, minimnya air bersih meningkatkan risiko penyakit kulit, dehidrasi, hingga sanitasi buruk.
Jika pemerintah daerah dan instansi terkait terus bergeming, Alue Bili Geulumpang akan menjadi potret kegagalan pelayanan publik di Aceh Utara. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah: Memberi solusi atau membiarkan rakyatnya terus kehausan?





























