Polemik Dapur Gizi di Desa Mee Meurah Mulia: Higienis atau Hanya Formalitas?

Fadly P.B

- Redaksi

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:27 WIB

50234 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Limbah MBG Desa Diduga Dialirkan ke Parit Umum

Foto: Limbah MBG Desa Diduga Dialirkan ke Parit Umum

‎‎Aceh Utara – Bau menyengat yang menyeruak dari saluran air di sekitar pemukiman Desa Mee, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, memicu protes warga. Warga menduga Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Desa Mee membuang limbah cair hasil aktivitas dapur langsung ke parit pemukiman tanpa melalui pengelolaan yang memadai.

‎Kekhawatiran warga tak berhenti pada persoalan limbah. Mereka juga mempertanyakan standar menu yang disajikan untuk balita, khususnya mengenai pemberian nasi kuning yang santer disebut-sebut tidak dianjurkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

‎”Kami sudah lama mengeluhkan kondisi ini, namun seolah tidak ada langkah konkret yang diambil,” ujar salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Kamis (18/6). Warga bahkan menyertakan bukti foto yang menunjukkan pipa pembuangan yang diduga mengalirkan sisa cucian dapur langsung ke selokan terbuka di dekat rumah mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Foto: Menu MBG di Desa Mee Meurah Mulia
Foto: Menu MBG di Desa Mee Meurah Mulia

‎Bantahan dan Dokumen Laik Higiene

‎Kepala Dapur SPPG Desa Mee, Desri, membantah keras tudingan bahwa pihaknya mengabaikan standar sanitasi. Ia menegaskan bahwa operasional dapur telah melalui pengawasan ketat pemerintah daerah.

‎Sebagai bukti, Desri menunjukkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang telah dikantongi dapur SPPG tersebut. Menurutnya, sertifikat ini bukanlah dokumen yang mudah didapat, melainkan melalui serangkaian proses panjang mulai dari uji laboratorium air bersih, pemeriksaan sampel makanan, hingga Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat.

‎”Kami sudah memenuhi syarat administratif dan teknis. SOP dapur kami sudah lengkap. Terkait air limbah, alurnya adalah menuju IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), bukan ke selokan umum,” ujar Desri saat dikonfirmasi, Jumat (19/6).

‎Menanggapi keluhan bau di selokan yang diadukan warga, Desri menyatakan kesiapannya untuk melakukan evaluasi. “Jika memang ada aroma tidak sedap di sekitar drainase, kami akan segera melakukan pengecekan dan evaluasi lebih lanjut,” tambahnya.

‎Klarifikasi Soal Menu Balita

‎Terkait polemik penggunaan nasi kuning untuk balita, Desri memberikan klarifikasi teknis mengenai komposisi bahan. Ia meluruskan anggapan masyarakat bahwa nasi kuning yang disajikan pihaknya menggunakan santan, seperti halnya nasi kuning atau nasi uduk tradisional pada umumnya.

‎”Kami menggunakan kunyit untuk pewarna alami, serta bawang merah, bawang putih, dan kemiri yang ditumis. Tidak ada santan dalam menu kami,” jelas Desri.

‎Ia menekankan bahwa pemilihan menu tersebut didasarkan pada aspek penerimaan gizi anak dan cita rasa. Desri menyatakan pihaknya terbuka bagi warga atau pihak terkait yang ingin memverifikasi komposisi bahan makanan yang digunakan di dapur SPPG.

‎”Kami memahami kekhawatiran masyarakat, namun perlu kami luruskan bahwa nasi kuning yang kami sajikan berbeda dengan yang dianggap dilarang karena penggunaan santan. Kami siap transparan mengenai proses pengolahan ini agar tidak terjadi kesalahpahaman di publik,” pungkasnya.

‎Kini, bola panas ada di tangan otoritas terkait. Apakah SLHS yang dikantongi Dapur SPPG Desa Mee benar-benar menjadi jaminan bahwa operasionalnya tak lagi mencemari lingkungan, atau hanya sekadar pemenuhan formalitas di atas kertas? Warga Desa Mee kini hanya bisa menunggu, apakah aroma menyengat yang mengganggu keseharian mereka akan benar-benar hilang, atau justru menguap bersama janji-janji evaluasi yang belum terbukti.

Berita Terkait

Kanit Binmas Polsek Baktiya Ajak Warga Jauhi Judol, Lindungi Keberlanjutan PKH
Kopi Morning Di Nibong, Polri Dan Forkopincam Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Kapolsek Nibong Perkuat Sinergi Warga, Lewat Program Quick Win Kapolri
Tragis! Petani di Aceh Utara Tewas Tertimpa Patahan Pohon Kelapa
Pengajian Bulanan Baktiya Kembali Bergema, Abi Darkasyi Satukan Ulama Dan Unsur Muspika Pascabanjir
Jumat Berkah ke-460, Polsek Baktiya Dan Komunitas Baktiya Bersaudara Hadirkan Kepedulian Bagi Warga Rentan
Malam Tak Menghalangi Pengabdian, Kanit Binmas Polsek Baktiya Hadir Menyapa Warga Matang Lawang
Polisi Bersama Masyarakat, Kapolres Aceh Utara Jumat Keliling di Masjid Raya Pase Kota Panton Labu

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:40 WIB

Subuh Keliling, Polsek Darul Aman Ajak Warga Jaga Keamanan Lingkungan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:46 WIB

Kapolsek Banda Alam Ajak Warga Perkuat Harkamtibmas Lewat Jumat Keliling

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:14 WIB

Kapolsek Peureulak Barat Hadiri FASI V, Dorong Anak Cinta Al-Qur’an

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Dukung Green Policing Polsek Banda Alam Bersihkan Masjid Babul Maqwa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Polisi Peduli Pendidikan, Polsek Peureulak Barat Tanamkan Disiplin dan Semangat Belajar kepada Anak TK

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:17 WIB

Kapolsek Peudawa Pimpin Green Policing di Masjid Darul Falah

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:03 WIB

Kapolsek Peureulak Barat: Santri Berperan Jaga Persatuan dan Keamanan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Green Policing, Aksi Nyata Polsek Darul Aman Jaga Kelestarian Lingkungan

Berita Terbaru