MOJOKERTO – Perjalanan hidup di usia 50 tahun menjadi momentum bagi Agus Flores untuk kembali menelusuri sejarah keluarga, mengenang perjalanan leluhur, serta memahami akar keturunan dari garis ayahnya.
Di tengah berbagai pertanyaan masyarakat mengenai latar belakang keluarganya, Agus Flores akhirnya menjelaskan asal-usul yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
“Netizen selalu bertanya, benarkah Agus Flores merupakan keturunan Majapahit?” demikian pertanyaan yang kerap muncul dan mendorongnya untuk menceritakan kembali silsilah keluarga.
Agus Flores menjelaskan bahwa garis keturunannya berasal dari keluarga ayah yang memiliki hubungan sejarah dengan Mojokerto dan kawasan Besuki.
Ayahnya lahir di Mojokerto, sementara ibunya berasal dari Maumere, Flores. Adapun dirinya sendiri lahir di Sulawesi Tengah (Sulteng).
Menurut penuturannya, masa kecil hingga dewasa sang ayah banyak dihabiskan di wilayah Keresidenan Besuki, termasuk tinggal di Pendopo Agung Besuki.
Menelusuri silsilah keluarga dari pihak ayah
Dalam penjelasannya, Agus Flores menyebut nama Raden Kusnandar sebagai ayahnya, dengan garis keluarga yang ditelusuri hingga Raden Astrodiarjo Kertabumi dan Roro Moerland.
Dari pernikahan tersebut, menurut silsilah yang dituturkannya, terdapat empat anak, yakni:
1. Raden Sunaryo, yang disebut pernah menjabat sebagai pejabat di Mojokerto.
2. Raden Kusman, yang disebut pernah menjabat sebagai pejabat di Keresidenan Besuki.
3. Roro Asih.
4. Roro Herlina.
Agus Flores juga menjelaskan bahwa Raden Kusman tidak memiliki anak sehingga Raden Kusnandar diangkat sebagai anaknya.
Sementara itu, ayah Agus Flores disebut merupakan anak dari pasangan Roro Herlina dan Raden Hadi Sunoto, yang menurut penuturannya berasal dari wilayah Kediri–Caruban.
Rangkaian nama dan hubungan keluarga tersebut menjadi bagian penting dari kisah yang ingin ia telusuri dan sampaikan kepada masyarakat.
Keyakinan pribadi dan pesan leluhur
Bagi Agus Flores, menelusuri sejarah keluarga bukan semata-mata membicarakan nama, gelar, atau asal-usul keturunan.
Ia juga memandang perjalanan tersebut sebagai ruang refleksi untuk memahami nilai-nilai kehidupan, tanggung jawab, dan amanah yang diwariskan oleh generasi terdahulu.
Ia mengungkapkan pengalaman spiritual yang menurut keyakinan pribadinya berkaitan dengan kehadiran leluhur yang diyakini memberikan nasihat dan amanah.
“Apakah ini disebut indigo atau bukan, itu rahasia Allah SWT,” demikian inti penuturannya mengenai pengalaman tersebut.
Baginya, pengalaman spiritual itu merupakan bagian pribadi dari perjalanan hidup yang dimaknai sebagai pengingat agar selalu mengutamakan hal-hal baik, terlebih ketika seseorang memegang tanggung jawab sebagai pemimpin.
Menjaga sejarah keluarga, menghormati asal-usul
Memasuki usia 50 tahun, Agus Flores merasa perlu menceritakan kembali perjalanan keluarga dari pihak ayah agar asal-usul tersebut tidak terputus dari ingatan generasi berikutnya.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah keluarga merupakan bagian dari identitas yang perlu ditelusuri dengan cermat,
Melalui kesaksian keluarga, dokumen silsilah, arsip sejarah, dan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun klaim hubungan genealogis dengan Majapahit masih memerlukan penelusuran dan verifikasi melalui sumber sejarah yang relevan.
Nama, gelar, serta cerita turun-temurun dapat menjadi titik awal penelitian, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan hubungan keturunan secara langsung.
Bagi Agus Flores, yang terpenting adalah mengenali akar keluarga, menghormati jasa para pendahulu, dan menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Sebab, mengenal leluhur bukan hanya tentang mengetahui dari mana seseorang berasal, tetapi juga tentang memahami nilai apa yang hendak diwariskan kepada generasi mendatang.
{Jurnalis Agus Suriadi}































