BATU SUMBANG – Waktu terus berjalan, tetapi jejak bencana banjir bandang yang melanda kawasan pedalaman Aceh Timur masih menyisakan cerita panjang tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan. Sabtu 07/11/2026
Di tengah upaya masyarakat menata kembali kehidupan, Masjid Baiturrahman di Desa Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, menjadi salah satu saksi perjalanan warga untuk bangkit dari keterpurukan.
Setahun setelah bencana itu, suasana di sekitar masjid kembali memperlihatkan denyut kehidupan. Aktivitas pembangunan dan penataan lingkungan mulai terlihat.
Material bangunan tersusun di halaman, rangka konstruksi berdiri, sementara sejumlah bagian bangunan masih membutuhkan penyelesaian.
Pemandangan tersebut bukan sekedar gambaran sebuah bangunan yang sedang dibenahi. Di baliknya, tersimpan harapan masyarakat
Untuk menghidupkan kembali rumah ibadah yang memiliki arti penting dalam kehidupan sosial dan spiritual warga Desa Batu Sumbang.
Dari Jejak Bencana Menuju Harapan Baru
Banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut sekitar setahun lalu menjadi ujian berat bagi masyarakat.
Bencana alam tidak hanya meninggalkan persoalan pada tempat tinggal dan lingkungan, tetapi juga menghadirkan tantangan besar dalam memulihkan fasilitas umum, termasuk sarana ibadah.
Bagi masyarakat pedesaan, masjid bukan hanya tempat menunaikan salat berjemaah. Masjid juga menjadi ruang berkumpul, mempererat silaturahmi,
Membangun kebersamaan, serta menyampaikan nilai-nilai keagamaan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, upaya membenahi Masjid Baiturrahman memiliki makna yang lebih luas daripada sekedar memperbaiki bangunan.
Ada kerinduan untuk kembali menjalankan aktivitas ibadah dengan lebih nyaman, sekaligus memulihkan kehidupan bermasyarakat yang sempat terganggu oleh bencana.
Kini, bangunan masjid yang tampak dalam proses pembenahan menjadi gambaran bahwa harapan itu masih terpelihara.
Meski pekerjaan belum sepenuhnya rampung, setiap tahapan pembangunan mencerminkan usaha untuk menata kembali apa yang sempat terdampak.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Masyarakat
Di tengah keterbatasan yang dihadapi masyarakat pascabencana, semangat gotong royong memiliki peran penting dalam proses pemulihan.
Pembangunan kembali fasilitas umum membutuhkan kepedulian, tenaga, waktu, serta dukungan berbagai pihak.
Masjid Baiturrahman menjadi pengingat bahwa pemulihan tidak selalu berlangsung dalam waktu singkat.
Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari membersihkan lingkungan, menyiapkan material, memperbaiki bagian bangunan, hingga menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda.
Halaman masjid yang masih memperlihatkan material konstruksi dan rangka bangunan menjadi potret nyata dari proses tersebut.
Di balik setiap bagian yang dibenahi, terdapat harapan agar rumah ibadah ini kembali berfungsi secara optimal dan menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat.
Perjalanan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kepedulian bersama.
Dukungan masyarakat, pemerintah, para dermawan, dan pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap pemulihan kawasan terdampak bencana dapat menjadi kekuatan untuk mempercepat kebangkitan.
Masjid Bukan Sekadar Bangunan
Ada makna mendalam ketika sebuah rumah ibadah kembali dibenahi setelah bencana.
Masjid menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga kehidupan beragama di tengah berbagai kesulitan.
Bagi warga Desa Batu Sumbang, Masjid Baiturrahman diharapkan kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan,
Tempat mempererat hubungan antarsesama, serta ruang untuk menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
Bangunan yang perlahan ditata kembali juga menyampaikan pesan bahwa bencana boleh meninggalkan kerusakan, tetapi tidak seharusnya memadamkan semangat untuk bangkit.
Pemulihan memang tidak cukup hanya dengan membangun kembali dinding, tiang, dan atap. Lebih dari itu, diperlukan upaya berkelanjutan
Untuk memastikan fasilitas yang telah dibenahi dapat digunakan dengan baik, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Menjaga Harapan agar Tetap Menyala
Setahun setelah banjir bandang, perjalanan Masjid Baiturrahman masih menyisakan pekerjaan yang harus dituntaskan.
Namun, proses pembenahan yang terlihat menjadi tanda bahwa upaya pemulihan terus berjalan.
Perhatian terhadap kelanjutan pembangunan tetap dibutuhkan agar masjid dapat kembali menjalankan fungsinya secara maksimal.
Setiap dukungan yang diberikan, sekecil apa pun, berpotensi membantu masyarakat mempercepat pemulihan rumah ibadah yang mereka cintai.
Kisah Masjid Baiturrahman bukan semata-mata tentang bangunan yang berusaha berdiri kembali setelah diterjang bencana.
Ini adalah cerita tentang ketabahan, kebersamaan, dan keyakinan masyarakat bahwa masa sulit bukanlah akhir dari segalanya.
Dari Desa Batu Sumbang, sebuah pesan sederhana kembali mengemuka bangkit setelah bencana
Membutuhkan waktu, tetapi harapan akan terus tumbuh selama masyarakat tetap menjaga kebersamaan.
Masjid Baiturrahman pun menjadi bagian dari perjalanan itu perlahan menata kembali dirinya,
Seiring harapan warga yang ingin melihat kehidupan beribadah dan kebersamaan di desa mereka kembali tumbuh dengan lebih kuat.
{Jurnalis Agus Suriadi}































