Aceh Utara – Di sebuah sudut Desa Alue Bieng, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara waktu seolah berhenti bagi Kartini. Di saat dunia riuh membicarakan kemajuan teknologi tahun 2026, perempuan berusia 44 tahun ini justru masih terperangkap dalam gubuk derita warisan ibunya yang lebih mirip monumen kemiskinan daripada sebuah hunian.
Kartini, seorang janda korban konflik Aceh, menjalani hari-harinya dalam sunyi bersama putrinya, Bunga (nama samaran). Rumah mereka tak layak disebut tempat bernaung. Dindingnya yang penuh dengan lubang, atapnya juga penuh lubang yang membuat hujan bukan lagi berkah, melainkan ancaman.
”Coba bayangkan, mereka tidur kedinginan setiap malam. Kalau hujan turun, jangan ditanya lagi, bocor di mana-mana,” ujar seorang warga Alue Bieng kepada media, Rabu, 13 Mei 2026.
Bayang-Bayang Kelam Masa Lalu
Penderitaan Kartini bukan sekadar soal ekonomi. Ada luka psikis yang menganga dalam. Warga menuturkan bahwa Kartini mengalami gangguan kejiwaan yang diduga kuat merupakan dampak trauma masa lalu. Ia pernah disandera selama lima malam bersama ibunya oleh oknum aparat saat konflik Aceh masih membara puluhan tahun silam.
Luka batin itu kini bersanding dengan gelapnya malam. Ironisnya, di tengah program elektrifikasi nasional, rumah Kartini adalah satu-satunya yang belum tersentuh cahaya lampu.
”Dulu ada program listrik gratis. Kami warga mengusulkan nama beliau. Tapi pihak PLN bilang tidak bisa karena kabelnya tidak sampai ke rumah Ibu Kartini,” ungkap warga dengan nada geram.
Putusnya Harapan Generasi Kedua
Kemiskinan ekstrem ini pun merenggut masa depan (Bunga). Gadis malang itu terpaksa menanggalkan seragam sekolahnya saat duduk di kelas 2 SMA. Jarak sekolah yang jauh dan ketiadaan biaya transportasi menjadi tembok tebal yang mengubur mimpinya.
Demi menyambung hidup, Bunga sempat mengadu nasib ke Banda Aceh menjadi pengasuh anak di rumah kerabatnya. Namun, kondisi sang ibu yang membutuhkan perhatian membuatnya tak punya banyak pilihan selain bertahan di gubuk gelap tersebut.
Birokrasi yang Buntu
Kondisi Kartini sebenarnya bukan rahasia bagi aparatur desa. Namun, bantuan yang diharapkan tak kunjung datang melintasi pintu rumahnya.
Geuchik (Kepala Desa) Alue Bieng, Muchtar, membenarkan potret pilu warganya itu. Ia mengaku pihak desa sudah berulang kali mengupayakan bantuan ke berbagai pihak, namun hingga kini hasilnya nihil.
”Benar, beliau tinggal di sana. Saya memang baru beberapa bulan dilantik jadi Geuchik, tapi setahu saya dulu sudah pernah diusahakan meminta bantuan ke sana-kemari, tapi sampai sekarang belum ada hasil,” jelas Muchtar saat dikonfirmasi.
Kisah Kartini adalah tamparan keras bagi pemerintah daerah Aceh Utara. Di tengah anggaran otonomi khusus yang mengalir, masih ada korban konflik yang hidup terlunta-lunta, terlupakan oleh sistem, dan dibiarkan menua dalam trauma serta kegelapan.





























