Ayo Tagih Presiden Prabowo! Wujudkan Pendidikan SLTA untuk Seluruh Rakyat Indonesia

TRIBUN PASE

- Redaksi

Minggu, 6 Juli 2025 - 19:45 WIB

50154 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Bagaimana cara menaikkan tingkat pendidikan rakyat Indonesia? Mudah saja: keluarkan Keputusan Presiden (Keppres) bahwa seluruh rakyat Indonesia wajib menuntaskan pendidikan setingkat SLTA (SMA/SMK). Tidak ada alasan untuk menunda. Selama rakyat masih bernapas dan belum pikun, maka mereka harus diberikan kesempatan dan kewajiban untuk menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SLTA melalui program penyetaraan yang merata dan, terutama, gratis.

Gagasan ini bukan utopia. Pada masa revolusi kemerdekaan, Bung Karno dengan lantang dan penuh semangat meluncurkan program pemberantasan buta huruf. Itu dilakukan ketika kondisi bangsa jauh lebih miskin dan tidak stabil dibandingkan hari ini. Namun semangat revolusioner dan keberpihakan kepada rakyat membuat hal itu bisa terwujud.

Sekarang, saat Indonesia telah tumbuh menjadi negara berpendapatan menengah, dengan anggaran pendidikan mencapai ratusan triliun rupiah, mengapa penyetaraan pendidikan SLTA justru masih menjadi beban rakyat? Mengapa rakyat harus membayar mahal untuk sekadar mengejar ijazah Paket C?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Contohnya, berdasarkan data dari berbagai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di sejumlah daerah, biaya pendidikan Paket C—yang seharusnya menjadi hak rakyat untuk mengenyam pendidikan menengah—masih tergolong tinggi:

  • PKBM Tan Malaka, Tangerang: Rp3.250.000 (biaya administrasi)

  • Yayasan Robiatul Adawiyah, Marunda, Jakarta: Rp500.000 (pendaftaran) dan hingga Rp5.800.000 untuk Paket C IPA

  • PKBM Generasi Juara, Depok: Rp3.500.000 per semester

  • Lembaga Pendidikan MDC, Bandung: Rp290.000 per bulan

  • PKBM Pemuda Pelopor, Sukabumi: Rp1.800.000

Angka-angka ini jelas memberatkan, apalagi bagi buruh tani, pedagang kecil, ibu rumah tangga, pekerja informal, atau warga di perbatasan dan pedalaman. Jika pendidikan adalah hak, mengapa hak itu masih bersyarat dan mahal?

Kondisi ekonomi masyarakat belum membaik sepenuhnya. Upah minimum masih rendah, pekerjaan tidak selalu tetap, dan daya beli terbatas. Maka menagih Presiden Prabowo untuk menghadirkan program penyetaraan pendidikan gratis dan merata hingga tingkat SLTA adalah langkah yang benar dan mendesak.

Satu Keppres dari Presiden Prabowo dapat mengubah wajah pendidikan bangsa. Program ini tidak hanya soal ijazah, tetapi tentang martabat bangsa. Ketika rata-rata pendidikan rakyat hanya sampai SD atau SMP, bagaimana kita bisa bicara tentang produktivitas, daya saing global, dan bonus demografi?

Sudah saatnya Biro Pusat Statistik mencatat bahwa rata-rata pendidikan rakyat Indonesia adalah SLTA. Itu hanya bisa terjadi jika negara hadir secara total—bukan setengah hati. Pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, ketertinggalan, dan kebodohan. Dan itu adalah tanggung jawab negara, bukan rakyat.

Jangan biarkan PKBM hanya menjadi ladang bisnis segelintir yayasan. Jadikan mereka mitra strategis negara, dengan pendanaan penuh dari APBN. Hadirkan regulasi nasional yang menjamin pendidikan penyetaraan Paket A, B, dan C gratis untuk semua, dan dorong semua warga yang belum lulus SLTA untuk kembali belajar.

Tagih janji revolusi mental! Saatnya rakyat mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk membuktikan keberpihakan sejatinya pada akar rumput melalui kebijakan besar: Pendidikan SLTA untuk Semua. (*)

Berita Terkait

AGUS FLORES SENTIL TAJAM DITTIPITER BARESKRIM POLRI: PETI SULAWESI TERKESAN TAK TERSENTUH, JANGAN HANYA BERANI BERTINDAK DI JAWA DAN SUMATRA!
Kapolri Suyudi Ario Seto Diangkat sebagai Warga Kehormatan Korpasgat TNI AU, Perkuat Sinergi TNI-Polri
Suryadi Djamil Apresiasi Kapolri Suyudi Ario Seto, Minta Sikat Narkoba hingga ke Pabrik
Viral Video Dugaan Pesta Narkoba Di Rutan Depok, Agus Flores: Bongkar Habis, Jangan Ada yang Dilindungi!
Agus Flores Tegas: Jangan Sampai “No Viral, No Justice” Jadi Budaya, Kapolri Harus Berani Copot Pejabat yang Tak Mampu Tangani Keluhan Masyarakat
Mendagri Tito Karnavian Jenguk Wali Nanggroe Aceh di Penang
Dana Jurnalisme untuk Siapa? Jangan Lupakan Puluhan Ribu Media Belum Terverifikasi Dewan Pers
Presiden Akui Polri, Menurunkan Kahutla dari 500.000 jadi 7.000 Hektar

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:13 WIB

LANA Apresiasi Kasat Reskrim Polres Nagan Raya Atas Pengungkapan Dugaan Penyalahgunaan BBM Bersubsidi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Sat Reskrim Polres Nagan Raya Amankan Terduga Pelaku Tambang Emas Ilegal, Sejumlah Barang Bukti Disita

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:05 WIB

Kapolres Nagan Raya Sambangi Ulama, Peduli Dayah Korban Banjir

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:03 WIB

Kapolres Nagan Raya Sambangi Ulama, Peduli Dayah Korban Banjir

Minggu, 4 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Polres Nagan Raya Beberkan Modus Penipuan Mengatasnamakan Kasat Reskrim: Pejabat Polisi Tidak Pernah Minta Uang via Telepon

Rabu, 8 Juli 2026 - 16:16 WIB

Kasus BBM Bersubsidi di Nagan Raya Berkembang, Dua Operator SPBU Resmi Ditahan

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:32 WIB

Kapolres Nagan Raya Tegaskan Komitmen Berantas BBM Bersubsidi Ilegal, Satreskrim Tahan Satu Terduga Pelaku

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:36 WIB

‎Bantu Rafasya Bayi Bocor Jantung Nagan Raya, Jamaluddin Idham Siapkan Fasilitas Pengobatan hingga ke Jakarta

Berita Terbaru