Toleransi dalam Islam Indah, Tanpa Mengikis Akidah

TRIBUN PASE

- Redaksi

Minggu, 13 Juli 2025 - 18:43 WIB

50164 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ninis (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Bertajuk “Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama” adalah kegiatan syuting program televisi yang digagas oleh stasiun TVRI Samarinda bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Balikpapan pada Rabu (18/06/2025). Dalam kegiatan tersebut Kementerian Agama Kota Balikpapan berkesempatan menjadi tuan rumah.

Program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai moderasi beragama dan membangun kesadaran publik akan pentingnya hidup rukun dalam keberagaman. Bahkan, kegiatan tersebut berlangsung dengan mengambil lokasi di tiga tempat: Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan, Rumah Dinas Kepala Kemenag Kota Balikpapan, dan SMP Negeri 6 Balikpapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Toleransi dalam program moderasi beragama terus digencarkan, apakah memang problem bangsa ini dikarenakan kurang harmonis di tengah keberagaman ataukah upaya sistemis untuk menjauhkan umat dari Islam?

Moderasi Mengikis Akidah

Masifnya program moderasi beragama terus digencarkan hingga di berbagai lini kehidupan masyarakat. Seolah-olah keberagaman suku, agama menjadi problem mendasar negeri ini. Padahal, meningkatnya kriminalitas, kemaksiatan dan bencana disebabkan gaya hidup makin jauhnya umat dari Islam dan mengambil paham kapitalis sekuler sebagai jalan hidupnya.

Sejatinya, berbagai konflik yang terjadi di negeri ini bukan terletak pada keberagaman semata. Namun, salah memahami dan menyikapi keberagaman tersabut. Pluralisme agama dalam bentuk toleransi “kebablasan” justru dapat mengikis akidah umat secara sistematis dan halus jika dibiarkan.

Terlebih, pemudi dibajak potensinya sebagai agent of change dialihkan menjadi promotor pluralisme yang nyatanya membahayakan akidah. Konsep semua agama sama terus diwacanakan, akhirnya mereka makin jauh dari ajaran Islam dan menuhankan kebebasan yang menjadi problem generasi kini.

Apalagi, pluralisme yakni paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama. Karena itu kebenaran setiap agama dianggap relatif, ini paham yang berbahaya. Sebab, konsekuensinya setiap pemeluk agama tidak boleh mengeklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Paham ini juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Umat sejatinya tak perlu diajarkan toleransi dalam bentuk moderasi karena mengaburkan dan mengikis akidah. Sejak lama umat bisa hidup bersama di tengah masyarakat yang plural tanpa harus menggadaikan akidahnya dengan menganggap semua agama sama. Problem utama bangsa ini karena dijauhkannya akidah Islam dari kehidupan sehingga marak kriminalitas, kemaksiatan bukan karena tidak ada moderasi beragama.

Toleransi dalam Islam Indah

Jauh sebelum wacana moderasi bergama dan sinkretisme digaungkan, Islam telah lebih dulu mempraktikkan keberagaman yang harmonis. Keberagaman tanpa harus mengorbankan akidahnya dan mencampuri akidah yang lain. Masyarakat yang plural suatu keniscayaan dalam Islam, Allah memiliki tujuan dalam penciptaanya agar mereka saling mengenal dan memiliki batasan toleransi yang jelas.

Hal tersebut termaktub dalam TQS. Al-Hujurat: 13. Allah Swt berfirman: “Wahai manusia, Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal…”

Serta dalam TQS. Al Kafirun: 6 “Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Artinya, Islam mengakui, menghormati, dan mengatur keberagaman sebagai bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah). Namun, Islam juga memberikan batasan agar keberagaman itu tidak menjadi sumber permusuhan atau kerusakan.
Konsep Pluralisme merujuk pada paham semua agama dianggap sama benarnya dan bisa menjadi jalan keselamatan tertolak secara akidah. Sebaliknya Islam menegaskan bahwa kebenaran agama hanya satu, yaitu Islam. Islam tidak menerima pandangan bahwa semua agama benar dan setara, apalagi mengarah pada pencampuradukan akidah (sinkretisme).
Sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Sungguh agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Siapa saja yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, sungguh Allah sangat cepat hisab-Nya (TQS. Ali Imran [3]: 19).

Bahkan secara historis, praktik toleransi beragama pertama kali dicontohkan Islam yang dijalankan oleh Rasulullah saw. di dalam naungan Negara Islam di Madinah al-Munawarah dengan sangat indah. Kemudian dilanjutkan praktik toleransi bawah naungan Khilafah Islam sepanjang sejarahnya. Di Mesir, misalnya, umat Islam dan Kristen hidup rukun ratusan tahun sejak masa Khulafaur Rasyidin. Di India, sepanjang Kekhalifahan Bani Umayah, Abbasiyah dan Ustmaniyah, Muslim dan Hindu hidup rukun selama ratusan tahun.

Toleransi dalam Islam juga terbangun indah pada masa Kekhilafahan Islam di Spanyol. Di Spanyol, lebih dari 800 tahun pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen juga hidup berdampingan dengan tenang dan damai. Sejatinya keindahan praktik toleransi dalam Islam ini sejalan dengan misi pengutusan Rasulullah saw. kepada seluruh manusia untuk menebarkan rahmat. Allah SWT berfirman: “Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Demikianlah gambaran keindahan toleransi dalam Islam dan menyikapi keberagaman. Mereka bisa hidup rukun dan damai selama berabad-abad, saling menghargai keyakinan masing-masing tanpa adanya moderasi beragama dan sinkretisme. Wallahu A’lam.

Berita Terkait

81st Independence Day: DPC BAI Aceh Tamiang Calls on Community to Rise from Disaster
DPC BAI Aceh Tamiang: The Law Must Be Present in Village Communities, Not Merely Understood When Problems Arise
DPC Indonesian Advocacy Agency (BAI) Aceh Tamiang Strengthens Organizational Integrity and Reinforces the Roles and Responsibilities of Its Management
Datang Membawa Harapan, Pulang Meninggalkan Antrian
Dari Banjir ke Pencegahan: Utang Pembangunan Aceh Pasca Bencana Akhir 2025
Belajar dari Lumpur: Spirit Kemanusiaan dan Keikhlasan Pejuang Pesantren Ummul Ayman IIl
Kebijakan Pertambangan, Potret Simbolis Oligarki Kapitalistis dan Oligarki Politis
Koruptor Adalah Satwa Liar Yang Paling Dilindungi di Indonesia? Ketika Uang Menjadi Tuhan, Rakyat Hanya di Jadiakn Korbannya, Akankah Nasib NKRI Bisa Bertahan 2045?

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 00:07 WIB

Ketua Forum Tanah Luas Klarifikasi Program Siaga Bencana

Jumat, 18 September 2026 - 23:48 WIB

Persempit Ruang Barang Terlarang, Lapas Lhoksukon Libatkan TNI-Polri Dalam Razia Mendadak

Jumat, 18 September 2026 - 21:06 WIB

Dari Goresan Siswa Menjadi Penghargaan, Bupati Aceh Utara Terima Buku “Titian Endatu” Karya MIN 14 Aceh Utara

Senin, 14 September 2026 - 21:50 WIB

Delapan Abad Samudera Pasai, Rangkaian Milad ke-800 Berakhir Sukses dan Meriah ‎

Senin, 14 September 2026 - 07:54 WIB

Wagub Aceh Dek Fadh Serahkan Bantuan Rp. 6,78 Miliar Untuk Aceh Utara

Sabtu, 12 September 2026 - 20:37 WIB

Disporaparekraf Aceh Utara Ajak Masyarakat Meriahkan Gerak Jalan Santai Milad Samudera Pasai ke-800

Rabu, 9 September 2026 - 23:26 WIB

Karang Taruna Aceh Utara Ajak Pemuda dan Warga Sukseskan Peringatan 800 Tahun Samudera Pasai

Sabtu, 5 September 2026 - 18:22 WIB

Respon Cepat Pohon Tumbang Ganggu Jalan, Satlantas Polres Aceh Utara Langsung Turun Evakuasi

Berita Terbaru

ACEH UTARA

Ketua Forum Tanah Luas Klarifikasi Program Siaga Bencana

Rabu, 23 Sep 2026 - 00:07 WIB