Aceh Tamiang – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan antara Ketua DPC Badan Advokasi Indonesia (BAI) Aceh Tamiang, Syamsul, Pemimpin Redaksi Media Tribunpasee sekaligus Ketua PW FRN (Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara) Respon Counter POLRI Nusantara Propinsi Aceh, Agus Suriadi, serta Ustadz Kurniansyah, S.H.I., seorang Da’i di Kabupaten Aceh Tamiang, dalam sebuah bincang-bincang santai yang berlangsung di salah satu kafe di Aceh Tamiang, Kamis (18/6/2026).
Meski berlangsung dalam suasana sederhana, diskusi tersebut berkembang menjadi perbincangan yang sarat makna. Berbagai isu penting yang menyangkut kepentingan masyarakat, pembangunan daerah, keterbukaan informasi publik, hingga peran moral dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat menjadi topik utama yang dibahas.
Ketua DPC BAI Aceh Tamiang, Syamsul, menegaskan bahwa sinergi antara organisasi masyarakat, media, dan tokoh agama merupakan kekuatan besar dalam mendorong kemajuan daerah. Menurutnya, kolaborasi yang baik akan melahirkan solusi yang lebih efektif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Media Tribunpasee, Agus Suryadi, menyoroti pentingnya peran media sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi publik menjadi salah satu kunci terciptanya pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan dipercaya oleh masyarakat.
Di sisi lain, Ustadz Kurniansyah mengingatkan bahwa pembangunan yang berhasil tidak hanya diukur dari kemajuan fisik dan ekonomi semata, tetapi juga harus diimbangi dengan pembangunan akhlak, moral, dan nilai-nilai keagamaan.
Menurutnya, masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.
Perbincangan yang berlangsung selama beberapa jam tersebut sesekali diselingi canda dan tawa, namun tetap sarat dengan gagasan konstruktif. Ketiganya sepakat bahwa kemajuan Aceh Tamiang memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.
Momen kebersamaan itu juga menjadi simbol bahwa perbedaan latar belakang profesi bukanlah penghalang untuk duduk bersama membicarakan kepentingan rakyat. Justru dari ruang-ruang diskusi sederhana seperti itulah sering lahir ide-ide besar yang mampu membawa perubahan positif bagi daerah.
Menjelang berakhirnya pertemuan, ketiga tokoh tersebut menyampaikan harapan agar semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat Aceh Tamiang. Mereka meyakini bahwa dengan kolaborasi yang kuat antara unsur advokasi, media, dan tokoh agama, berbagai tantangan yang dihadapi daerah dapat diatasi secara bersama-sama.
“Ketika suara advokasi, kekuatan media, dan nasihat ulama bertemu dalam satu meja, maka harapan baru bagi masyarakat akan selalu menemukan jalannya.”
(Saut Simanjuntak)






























