Dr. Ir. TM Zulfikar: Bencana Aceh 2025 Bukan Sekadar Alam, Negara Dinilai Gagal Lindungi Rakyat

AGUS SURIADI

- Redaksi

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:26 WIB

5095 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH — Bencana besar yang melanda Aceh pada akhir November 2025 tidak bisa lagi disebut semata-mata sebagai musibah alam. Peristiwa tersebut dinilai sebagai akumulasi kegagalan negara dan pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan, menata pembangunan, serta melindungi rakyat dari risiko ekologis yang selama ini diabaikan.

Penilaian keras itu disampaikan Dr. Ir. TM Zulfikar, praktisi dan akademisi lingkungan Aceh. Ia menegaskan bahwa bencana 2025 telah membuka krisis berlapis yang saling berkaitan, mulai dari kerusakan ekologi, kelumpuhan ekonomi rakyat, hingga ancaman retaknya tatanan sosial masyarakat.

“Ini bukan takdir. Ini akibat dari pilihan kebijakan yang salah selama bertahun-tahun. Alam diperas, sementara rakyat dijadikan korban,” tegas Zulfikar, Jumat (26/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kerusakan Lingkungan Jadi Akar Masalah

Menurut Zulfikar, Aceh telah lama berada di jalur rawan bencana akibat deforestasi masif, alih fungsi lahan tak terkendali, eksploitasi pesisir dan daratan, serta tata ruang yang longgar dan sarat kepentingan. Bencana 2025, kata dia, hanyalah puncak dari kerusakan yang selama ini dibiarkan terjadi.

Daerah tangkapan air hancur, daerah aliran sungai (DAS) berada dalam kondisi kritis, pesisir kehilangan perlindungan alami, dan keanekaragaman hayati terus terdesak.
“Ketika hujan turun, banjir mengganas. Saat laut bergejolak, pesisir tak berdaya. Alam sudah tak mampu melindungi karena telah dilukai oleh kebijakan manusia,” ujarnya.

Ekonomi Rakyat Tercekik Pasca Bencana

Dampak bencana, lanjut Zulfikar, tidak berhenti pada kerusakan fisik. Ekonomi rakyat Aceh terpukul dari hulu ke hilir. Sektor pertanian dan perikanan lumpuh, UMKM kehilangan modal dan pasar, sementara infrastruktur yang rusak menghambat distribusi, menaikkan biaya hidup, dan menekan daya beli masyarakat.

Ia menilai penanganan pasca bencana selama ini hanya bersifat darurat dan seremonial, tanpa menyentuh akar persoalan struktural.

“Bantuan datang sebentar lalu menghilang. Pemulihan berjalan lamban. Akibatnya, yang kuat selamat, sementara yang miskin semakin tenggelam,” kritiknya.

Krisis Sosial Mulai Mengancam

Tekanan ekonomi berkepanjangan mulai memicu krisis sosial yang nyata. Pengangguran meningkat, konflik lahan menguat, migrasi paksa terjadi, dan kepercayaan publik terhadap negara terus merosot.
“Jika kondisi ini dibiarkan, trauma bencana akan berubah menjadi kemarahan sosial. Ini adalah bom waktu,” kata Zulfikar.

Ia menegaskan, tanpa transparansi dan keadilan, solidaritas masyarakat Aceh yang selama ini menjadi benteng utama saat krisis justru berpotensi terkikis.

Lingkaran Setan yang Dibiarkan Negara

Zulfikar menyebut Aceh kini terjebak dalam lingkaran setan krisis:
kerusakan lingkungan menghancurkan ekonomi, ekonomi memicu konflik sosial, dan konflik sosial kembali menghambat pemulihan lingkungan.
“Negara seolah membiarkan krisis ini saling menguatkan dan berulang,” tegasnya.

Tuntutan Tegas: Hentikan Pendekatan Tambal Sulam
Zulfikar mendesak pemerintah pusat dan daerah segera menghentikan pendekatan tambal sulam dan melakukan perubahan mendasar, di antaranya:

Rehabilitasi hutan, DAS, dan pesisir secara serius dan berkelanjutan
Penegakan hukum lingkungan tanpa kompromi
Penghentian izin-izin yang merusak lingkungan
Pemulihan ekonomi rakyat berbasis keberlanjutan
Pelibatan aktif masyarakat dalam perencanaan pembangunan
“Tanpa keberanian politik, bencana serupa hanya tinggal menunggu waktu,” tegasnya.

Peringatan Keras untuk Pemerintah

Menutup pernyataannya, Zulfikar menyampaikan peringatan keras kepada pemerintah:

“Pembangunan yang mengabaikan alam dan keadilan sosial adalah resep pasti menuju kehancuran.”

Ia menegaskan, Aceh memiliki kearifan lokal, solidaritas sosial, dan kekayaan sumber daya alam yang besar. Namun, jika terus dikelola secara rakus dan serampangan, maka bencana akan menjadi agenda tahunan.

“Pilihan ada di tangan pemerintah: berubah sekarang, atau terus membiarkan rakyat menanggung akibatnya,” pungkas Zulfikar.

Berita Terkait

MBG Jangan Jadi Eksperimen: SPPG Ditinggalkan, Kantin Dipaksakan
112 Sertipikat Elektronik PTSL Diserahkan kepada Warga Lubuk Damar, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah Diperkuat
Peringati Hari Lahir Kejaksaan ke-81, Enam Nadzir Terima Sertipikat Tanah Wakaf di Aceh Tamiang
Aceh Tamiang Marks 81st Anniversary of the Indonesian Prosecutor’s Office with Symbolic Presentation of Waqf Land Certificates to Six Nadzir
DPC BAI Aceh Tamiang Silaturahmi dengan DPMKPPKB, Bahas Penguatan Posbankum hingga ke Tingkat Desa
DPC BAI Aceh Tamiang Holds Dialogue with DPMKPPKB to Strengthen Village-Level Legal Aid Posts
Kantor Pertanahan Aceh Tamiang Ukur Lahan Huntap, Perkuat Kepastian untuk Masyarakat Terdampak Bencana
Aceh Tamiang Land Office Measures Huntap Site, Strengthening Land Certainty for Disaster-Affected Communities

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 21:50 WIB

Delapan Abad Samudera Pasai, Rangkaian Milad ke-800 Berakhir Sukses dan Meriah ‎

Senin, 14 September 2026 - 07:54 WIB

Wagub Aceh Dek Fadh Serahkan Bantuan Rp. 6,78 Miliar Untuk Aceh Utara

Rabu, 9 September 2026 - 23:26 WIB

Karang Taruna Aceh Utara Ajak Pemuda dan Warga Sukseskan Peringatan 800 Tahun Samudera Pasai

Sabtu, 5 September 2026 - 18:22 WIB

Respon Cepat Pohon Tumbang Ganggu Jalan, Satlantas Polres Aceh Utara Langsung Turun Evakuasi

Sabtu, 5 September 2026 - 17:05 WIB

Pasca Banjir Bandang November 2025 Lalu, Harga TBS Di Aceh Utara Tembus Rp2.500 per Kg

Sabtu, 5 September 2026 - 16:15 WIB

Pimred Tribunpasee.com Ucapkan Selamat Hari Jadi Milad Samudra Pasai ke-800

Rabu, 2 September 2026 - 20:56 WIB

Pimpin Hardikda ke-67, Bupati Aceh Utara Tekankan Penguatan Karakter dan SDM

Jumat, 7 Agustus 2026 - 18:35 WIB

Dua Pelajar Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Lhoksukon

Berita Terbaru