Aceh Utara – Langit di atas persawahan Gampong Teupin U, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, berubah gelap seketika pada Rabu sore, 8 Juli 2026. Hujan deras yang disertai kilatan petir menyambar silih berganti, membawa petaka bagi belasan ekor sapi yang sedang mencari perlindungan.
Enam ekor sapi yang tengah berteduh di bawah sebuah pohon besar di tengah areal persawahan ditemukan mati seketika. Kuatnya sambaran petir yang mengenai pohon tempat bernaung hewan-hewan tersebut menjadi penyebab utama kematian mereka.
Geuchik Gampong Teupin U, Muhammad Saleh, membenarkan insiden tersebut. Menurutnya, kawanan ternak itu sedang dalam pengawasan seorang warga bernama Razali. Meski berada dalam satu kawanan, enam ekor sapi yang meregang nyawa tersebut diketahui merupakan milik dari beberapa warga desa yang berbeda.
”Benar, enam ekor sapi milik warga mati tersambar petir saat berteduh di bawah pohon di tengah sawah. Sapi-sapi tersebut dipelihara oleh Razali, namun merupakan milik beberapa warga,” ujar Saleh saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2026).
Pihak pemerintah desa menyampaikan rasa belasungkawa atas musibah yang menimpa peternak di wilayahnya. Kejadian ini memberikan pukulan ekonomi yang cukup telak bagi para pemilik ternak. Berdasarkan taksiran sementara, kerugian akibat kematian sapi-sapi tersebut mencapai puluhan juta rupiah.

Mengantisipasi Cuaca Ekstrem
Musibah ini menjadi pengingat pahit bagi masyarakat di Aceh Utara mengenai risiko cuaca ekstrem. Selama masa peralihan musim yang kerap disertai intensitas petir tinggi, pemerintah gampong mengimbau para peternak untuk lebih waspada.
” Kami mengimbau masyarakat, khususnya para peternak, agar lebih waspada terhadap cuaca ekstrem. Jangan membiarkan ternak berteduh di bawah pohon tunggal saat hujan disertai petir,” tegas Saleh.
Pohon-pohon tinggi yang berdiri sendiri di tengah area terbuka, seperti persawahan, memang menjadi sasaran empuk sambaran petir karena menjadi titik tertinggi yang menarik muatan listrik dari awan. Fenomena ini sering kali tidak disadari oleh para peternak yang berada di lapangan.
Kejadian di Teupin U ini sekaligus menjadi catatan penting bagi otoritas terkait untuk terus memberikan sosialisasi mengenai mitigasi bencana alam skala lokal kepada masyarakat desa, demi mencegah berulangnya kerugian serupa di masa depan.






























