Menjemput Air, Mengais Dana: Cerita Petani Paya Bakong Patungan Sewa Alat Berat Membersihkan Irigasi

Fadly P.B

- Redaksi

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:29 WIB

5084 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

‎‎Aceh Utara – Di bawah terik matahari Rabu, 8 Juli 2026, sebuah ekskavator tampak sibuk mengeruk sedimen tanah dan pasir yang menumpuk di saluran irigasi Alue Ubay, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Namun, deru mesin alat berat itu bukan berasal dari proyek pemerintah, melainkan buah dari urunan kantong pribadi warga.

‎Sebanyak 39 Geuchik (Kepala Desa) di Kecamatan Paya Bakong, bersama Camat, Mukim, dan masyarakat setempat, sepakat melakukan aksi “patungan” untuk menyewa alat berat demi membersihkan irigasi utama yang menjadi urat nadi pertanian mereka.

‎Ketua Forum Geuchik Paya Bakong, Khairul Rizal atau yang akrab disapa Abu Gan, menuturkan bahwa langkah ini diambil karena petani tidak bisa lagi menunggu solusi dari instansi terkait.

‎” Kami, 39 Geuchik, Camat, Mukim, beserta masyarakat Paya Bakong patungan untuk membersihkan irigasi Alue Baiy ini. Kami harus bergerak sendiri karena jika tidak, sawah-sawah tidak akan teraliri air,” ujar Abu Gan kepada wartawan, Rabu, 8 Juli 2026.

Krisis Akibat Sedimentasi

‎Abu Gan menjelaskan, kondisi irigasi Alue Baiy saat ini berada dalam level darurat. Pendangkalan parah terjadi pasca-bencana banjir yang membawa tumpukan pasir dari Waduk Keureutoe ke dalam saluran irigasi. Akibatnya, debit air yang mengalir ke hilir tidak mencukupi untuk kebutuhan tanam.

‎Ironisnya, dana yang terkumpul secara swadaya tersebut hanya cukup untuk menyewa alat berat selama satu hari. Artinya, pembersihan hanya menyentuh titik-titik yang paling krusial, sementara masalah pendangkalan secara menyeluruh masih membayangi masa depan pertanian di wilayah tersebut.

‎” Irigasi ini sudah tidak layak pakai jika tidak dikeruk. Kami tidak bisa terus-terusan berharap pada pemerintah. Jika masyarakat tidak memikirkan dirinya sendiri, siapa lagi yang akan peduli?” tambahnya dengan nada kecewa.

‎Di lokasi pengerukan, seorang tokoh masyarakat setempat, tampak ikut mengawasi jalannya pembersihan. Bagi pria yang telah bertani selama puluhan tahun ini, aksi patungan adalah “napas terakhir” bagi petani Paya Bakong.

‎” Kalau kami hanya menunggu janji, sawah akan jadi padang rumput. Irigasi ini satu-satunya sumber kehidupan kami,” ujarnya dengan nada getir. Ia menegaskan bahwa kerelaan warga untuk patungan, mulai dari petani kecil hingga aparat desa, merupakan bukti bahwa masyarakat sudah mencapai batas kesabaran terhadap kondisi infrastruktur yang terbengkalai.

Minimnya Respons Pemerintah

‎Aksi warga ini menjadi cerminan dari terabaikannya infrastruktur pertanian di wilayah Paya Bakong. Padahal, irigasi berfungsi vital bagi keberlangsungan siklus tanam ribuan petani di kecamatan tersebut.

‎Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Utara belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media melalui saluran komunikasi belum membuahkan hasil.

‎Ketiadaan kehadiran negara dalam persoalan ini memaksa warga mengambil inisiatif mandiri. Bagi petani Paya Bakong, gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan strategi bertahan hidup di tengah minimnya perhatian terhadap infrastruktur dasar yang menentukan kedaulatan pangan di desa mereka.

Ekskavator itu akhirnya berhenti beroperasi ketika matahari mulai condong ke barat, menandai berakhirnya masa sewa satu hari yang mampu dibayar warga. Di balik irigasi yang kini sedikit lebih lapang, menyisakan tanya besar: sampai kapan petani Paya Bakong harus menambal lubang yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah?.

Berita Terkait

Dugaan Pungli Berkedok Seragam, SMAN 1 Matangkuli Diduga Menjadi Toko Atribut
‎Dilantik di Banda Aceh, IPEMAPA Periode 2026–2028 Fokus Perkuat Sinergi dan Perjuangkan Rumah Singgah
Apel Pagi, Polsek Paya Bakong Tekankan Disiplin Dan Kesiapan Personel
Dikonfirmasi Transparansi Dana Jaspel, Kapus Muara Batu: “Kamu Siapa?”
Skandal Jadup Banjir di Sawang: Dana Warga Diduga Disunat, Wartawan Dicaci-Maki, YARA Minta APH Usut Tuntas
31 Siswa Aceh Utara Lolos OSN-P 2026, Siap Berlaga di Tingkat Provinsi
Polemik Dana Desa Lhok Euncien Baktiya Barat, Terancam Sanksi Penghentian Penyaluran Dana Desa?
Marwah Pers Tercederai di Sawang, LIN Aceh Desak APH Periksa Dugaan Pungli Jadup

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:35 WIB

Kunjungan Perdana ke Aceh Timur, Kapolda Aceh Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Daerah

Senin, 6 Juli 2026 - 23:18 WIB

Dukung Rehabilitasi Lingkungan Pascabanjir Aceh Timur, Medco E&P Malaka, BPMA, IM-TRAX Tanam 1.000 Pohon

Senin, 6 Juli 2026 - 13:31 WIB

Bupati Aceh Timur Lantik 57 Keuchik Gelombang IV, Sabri, S.T. Resmi Pimpin Gampong Tampor Paloh

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:42 WIB

Polres Aceh Timur Amankan Lokasi Kebakaran Penampungan Minyak Tradisional di Darul Ihsan

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:59 WIB

Respon Cepat Polres Aceh Timur Menyikapi Video Penganiayaan Anak di Idi Tunong

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:24 WIB

Viral Di Media Sosial, Anak Di Bawah Umur Diduga Jadi Korban Penganiayaan Di Aceh timur

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:29 WIB

Satreskrim Polres Nagan Raya Kembali Temukan Dua Ribu Liter BBM Bersubsidi Tak Bertuan

Jumat, 3 Juli 2026 - 13:50 WIB

Saweu Gampong, Kanit Binmas Polsek Idi Rayeuk Sapa Warga Dalam Menjaga Harkamtibmas

Berita Terbaru